Mamasa — Warga Dusun Pepana menyampaikan kekecewaan terhadap respons salah satu Kepala Bidang (Kabid) di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Mamasa terkait penanganan krisis air bersih yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Kekecewaan ini mencuat setelah pertemuan beberapa minggu lalu, saat pejabat Kesbangpol tersebut datang langsung ke Dusun Pepana bersama sejumlah aparat, termasuk Kapolsek, Kasat Intel Polres Mamasa, Lurah Talippuki, dan pihak lainnya. Dalam kunjungan tersebut, ia mengenakan rompi bertuliskan “Kesbangpol Mamasa” dan berjanji akan menyampaikan persoalan utama warga—yakni kesulitan akses air bersih—langsung kepada Bupati Mamasa.
Namun, saat warga menanyakan tindak lanjut dari janji tersebut, termasuk apakah persoalan itu telah disampaikan kepada Bupati dan apa solusi yang ditawarkan pemerintah daerah, respons yang diberikan dinilai tidak memuaskan.
Alih-alih memberikan penjelasan, pejabat tersebut menjawab, “Susah kalau begitu gaya ta dinda, saya kayak orang diinterogasi saja.”
Pernyataan itu memicu kekecewaan warga. Mereka menilai pertanyaan yang diajukan bukanlah bentuk interogasi, melainkan upaya meminta kejelasan atas komitmen yang sebelumnya telah disampaikan secara terbuka.
“Yang kami lakukan hanya menagih janji. Ini soal kebutuhan dasar kami, bukan hal sepele,” ungkap salah satu warga.
Warga menegaskan bahwa sebagai pejabat publik, seorang Kabid memiliki tanggung jawab untuk memberikan informasi yang transparan dan akuntabel kepada masyarakat. Mereka menilai sikap defensif tidak seharusnya muncul dalam situasi yang menyangkut kepentingan dasar masyarakat.
Krisis air bersih di Dusun Pepana disebut telah berlangsung lama dan belum mendapatkan solusi konkret. Kondisi ini berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari warga, mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga kesehatan.
Atas situasi tersebut, warga Pepana mendesak Pemerintah Kabupaten Mamasa untuk segera memberikan solusi nyata. Mereka juga meminta adanya kejelasan timeline penanganan agar persoalan yang telah berlarut-larut ini tidak terus berulang tanpa kepastian.
“Kalau sekadar bertanya saja dianggap interogasi, lalu kapan air bersih benar-benar mengalir di kampung kami?” ujar warga lainnya.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pihak Pemerintah Kabupaten Mamasa terkait perkembangan penanganan krisis air bersih di Dusun Pepana.







