Mamuju, 2 Mei 2026— Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Sulawesi Barat menggelar aksi damai dalam momentum peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) dan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Aksi ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai kampus di Kota Mamuju dengan mengusung tema “Jangan Apatis terhadap Isu Buruh dan Pendidikan.”
Aksi dimulai pukul 16.00 WITA dan berlangsung dengan tertib serta lancar. Koordinator Lapangan (Korlap), Irfan VOC, dalam orasinya menyampaikan bahwa aksi ini merupakan bentuk ekspresi sekaligus momentum untuk menyuarakan berbagai persoalan buruh dan pendidikan, baik di tingkat nasional maupun lokal.
“Kawan-kawan sekalian, Hari Buruh atau May Day dan Hardiknas tahun ini adalah momentum untuk kita menyuarakan isu atau permasalahan buruh, baik di lingkungan nasional maupun lokal,” ujar Irfan.
Salah satu peserta aksi, Fergiawan Rai Zacky, juga menyampaikan apresiasinya kepada massa aksi yang dinilai masih memiliki kepedulian terhadap kebijakan pemerintah yang belum berpihak pada rakyat kecil. Ia berharap aksi serupa terus dilakukan sebagai bentuk regenerasi gerakan pemuda yang kritis.
“Saya sangat mengapresiasi kawan-kawan sekalian yang masih peduli terhadap program pemerintah yang tidak pro rakyat kecil. Saya berharap aksi-aksi seperti ini terus dilaksanakan agar tetap ada regenerasi yang peka terhadap kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat,” ujarnya.
Orator lainnya, Suhar, menegaskan bahwa peringatan May Day tidak cukup hanya dengan seremoni atau ucapan semata, melainkan harus diwujudkan dalam aksi nyata sebagaimana perjuangan kaum proletar sejak tahun 1886. Ia juga menyoroti pentingnya refleksi dalam momentum Hardiknas terhadap kondisi pendidikan di Indonesia.
“May Day tidak cukup jika hanya diperingati dengan perayaan atau ucapan biasa. Sejak perlawanan kaum proletar pada 1886 hingga hari ini, masih banyak aspirasi buruh yang harus didengar oleh pemerintah. Begitu pula dengan Hardiknas, momentum ini harus menjadi refleksi bahwa sistem pendidikan kita masih membutuhkan perhatian serius, mulai dari kurikulum hingga pemerataan infrastruktur,” tegas Suhar.
Aksi kemudian dilanjutkan dengan konferensi pers yang membacakan sejumlah tuntutan.
Tuntutan Utama:
1. Tanah untuk rakyat
2. Naikkan upah buruh di Indonesia
3. Tegakkan ketentuan jam kerja maksimal 8 jam per hari
4. Pendidikan gratis bagi rakyat
5. Hentikan komersialisasi pendidikan
6. Lengkapi infrastruktur pendidikan di pelosok Indonesia, khususnya Sulawesi Barat
7. Sejahterakan tenaga pendidik dengan pengupahan yang layak
8. Alokasikan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN secara penuh tanpa pemotongan untuk program MBG
9. Evaluasi total program Makan Bergizi Gratis (MBG), atau hentikan jika diperlukan
10. Mendesak pemerintah daerah membentuk Perda Ojek Online (Ojol) Sulbar sebagai payung hukum
11. Gratiskan BPJS Ketenagakerjaan bagi pengemudi ojol di Sulbar
12. Mendesak aplikator menetapkan potongan biaya aplikasi maksimal 10%
13. Naikkan tarif ongkos kirim (ongkir) ojol
Tuntutan Turunan:
1. Perkuat perlindungan terhadap perempuan dan anak
2. Segera sahkan RUU Perampasan Aset
3. Usut tuntas seluruh kasus pelanggaran HAM di Indonesia
4. Tolak rencana tambang uranium di Sulawesi Barat
Aksi ditutup oleh Korlap dengan harapan agar seluruh tuntutan yang disampaikan dapat menjadi bahan evaluasi dan ditindaklanjuti oleh pemerintah, baik di tingkat daerah maupun nasional.
“Melalui gerakan Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Sulbar, kami berharap aksi damai ini tidak berlalu begitu saja. Tuntutan yang kami bawa diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi pemerintah dalam menyelesaikan berbagai persoalan buruh dan pendidikan. Kami juga berharap tuntutan ini dapat diwujudkan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah Sulawesi Barat,” tutup Irfan.







