Menu

Mode Gelap
Polresta Mamuju Tahan Seorang Oknum ASN, Pelaku Penipuan dan Penggelapan Uang Rp 135 Juta

Advertorial

Tragedi Trisakti 12 Mei 1998, Luka Sejarah yang Tak Boleh Dilupakan  

badge-check


					Tragedi Trisakti 12 Mei 1998, Luka Sejarah yang Tak Boleh Dilupakan    Perbesar

 

Tragedi Trisakti yang terjadi pada 12 Mei 1998 adalah salah satu peristiwa paling kelam dalam perjalanan demokrasi Indonesia. Penembakan terhadap empat mahasiswa Universitas Trisakti yang gugur saat menyuarakan reformasi dan menuntut perubahan menjadi pengingat bahwa kebebasan, demokrasi, dan keadilan yang kita nikmati hari ini tidak lahir begitu saja, melainkan dibayar dengan darah dan keberanian para mahasiswa.

 

Empat nama yang tercatat dalam sejarah Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie bukan sekadar korban, tetapi simbol perjuangan generasi muda yang menolak tunduk pada ketidakadilan. Mereka berdiri di garis depan, membawa suara rakyat, dan mempertaruhkan nyawa demi masa depan bangsa yang lebih demokratis.

 

Sebagai mahasiswa, kita memiliki tanggung jawab moral untuk terus mengingat dan merawat ingatan kolektif atas tragedi ini. Jangan sampai Tragedi Trisakti hanya menjadi catatan tahunan tanpa makna. Ia harus menjadi refleksi bahwa suara mahasiswa memiliki kekuatan besar dalam mengawal arah bangsa, sekaligus pengingat bahwa kekuasaan tanpa kontrol dapat melahirkan kekerasan terhadap rakyatnya sendiri.

 

“ragedi Trisakti menjadi pengingat bahwa suara mahasiswa bukan sekadar gema di jalanan, melainkan denyut nurani bangsa. Empat mahasiswa yang gugur pada 12 Mei 1998 telah meninggalkan pesan yang tidak boleh kita abaikan, bahwa demokrasi harus terus dijaga, dan keadilan harus terus diperjuangkan.” Ujar Syahrul Hidayat, Ketua Pers Mahasiswa, Selasa, 12 Mei 2026.

 

Kita perlu menegaskan bahwa Mengenang Tragedi Trisakti bukan hanya soal menundukkan kepala untuk berduka, tetapi juga mengangkat kepala untuk melanjutkan perjuangan. Generasi muda hari ini memiliki tanggung jawab untuk memastikan sejarah kelam seperti ini tidak pernah terulang kembali.

 

Di tengah tantangan zaman hari ini, semangat Trisakti harus tetap hidup, keberanian untuk bersuara, kepekaan terhadap ketidakadilan, serta komitmen menjaga demokrasi agar tidak mundur. Generasi muda tidak boleh apatis terhadap sejarah, sebab bangsa yang melupakan luka masa lalunya berisiko mengulang kesalahan yang sama.

 

Dua puluh delapan tahun telah berlalu, namun pertanyaan tentang keadilan bagi para korban dan keluarga masih menjadi pekerjaan rumah bangsa ini. Mengenang Tragedi Trisakti bukan sekadar mengenang duka, tetapi juga memperjuangkan agar kebenaran dan keadilan benar-benar ditegakkan.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Pelayanan Kesehatan Harus Menjamin Kepastian bagi Pasien

15 Juli 2026 - 15:34 WITA

RDP DI DPRD SULAWESI BARAT, GMH SOROTI 750 PEKERJA LUAR SULBAR PADA PROYEK SEKOLAH RAKYAT : PT. Hutama Karya Tidak menjawab tuntutan.

17 Juni 2026 - 23:01 WITA

Kapolresta Mamuju Lebih Baik Mundur Jika Tidak Mampu Tuntaskan Kasus Pengeroyokan Kader PMII

16 Juni 2026 - 00:14 WITA

FGMM Kecam Proses Hukum Kasus Pengeroyokan Dua Aktivis Mahasiswa dan Pengerusakan Sekretariat Gerakan Vendetta

16 Juni 2026 - 00:06 WITA

AKSI PMII DI KANTOR BUPATI MAMUJU BERAKHIR BENTROK DENGAN APARAT

11 Juni 2026 - 21:32 WITA

Trending di Advertorial